Postingan

Jika tak mampu dikatakan, tuliskan!

Ternyata, Semakin Realistis Karya Fiksi akan Semakin Menyakitkan; 5 cm Per Second

Gambar
Kalau menurut Aristoteles, karya sastra adalah sebuah katarsis; sebuah sarana pelepasan emosi yang intens. Namun, agaknya Makoto Shinkai terlalu berlebihan menanggapinya. Dia benar-benar meluapkan emosinya ke dalam karya yang ia buat. Sampai-sampai ia lupa yang ia buat adalah sebuah karya fiksi. Rasanya terlalu benar-benar terjadi, rasanya terlalu ceplas-ceplos, rasanya terlalu menusuk menembus layar. Saya perkenalkan karya kurang ajar itu, "5 cm Per Second". "5 cm Per Second" adalah sebuah film animasi buatan Makoto Shinkai, yang juga membuat Kimi No Nawa", berdurasi sekitar satu jam yang tidak banyak memakai dialog di dalamnya. Kekuatan cerita dalam film ini adalah dari monolog tokoh di dalamnya. Selain monolog yang membuat kita seperti mendengar cerita hangat nan menusuk, pergerakan dan perkembangan tokohnya pun membuat kita mengerti apa yang mereka alami tanpa banyak berbicara. Mengisahkan tentang Takaki dan Akari, sepasang kekasih yang harus menjalani kisa...

Tenki No Ko dan Sepertinya Sesekali Egois Tidak Masalah

Gambar
  Apakah kau juga kehujanan belakangan ini? Aku tidak tahu apakah musim yang tengah kita alami saat ini. Sebab, rasanya kita cuma punya musim hujan dan hujan sekali; dan terkadang musim panas dan panas sekali. Namun, telah beberapa bulan ini hujan seperti tak sungkan-sungkan untuk menetap. Seolah meminta kita untuk tidak buru-buru, meneduh sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Lalu, apakah makanan kesukaan tetap seperti dulu? Atau, karena hujan, sudah berubah? Apakah bakso dan mi rebus menjadi begitu menggoda? Atau malah kau lebih sering menyeruput kopi setiap senja? Atau sore, atau petang, yang mana pun yang menurutmu nyaman disebut. Namun, tetap saja entah senja, sore, atau pun petang, rasanya sama saja sekarang; tetap saja mendung. Jadi, apa makanan kesukaanmu saat ini? Sebenarnya aku tidak mau memintamu untuk suka ini atau suka itu. Apakah kau suka bakso atau kau tetap suka ayam geprek di cuaca saat ini, aku tidak masalah. Sebab, aku hanya mau bercerita tentang sesuat...

Cerpen: Efek Layar Kaca

Gambar
  Dimuat di Palembang Ekspres edisi 16 dan 17 Juli 2018 Efek Layar kaca Aku mendapat telepon dari teman lama yang tahu dengan masalah keuanganku. Dia bilang dia bisa membantuku, bahkan bisa membuatku masuk tipi. Tidak perlu menunggu lama untuk kepalaku mengangguk-angguk setuju, siapa yang tidak mau mendapat uang plus-plus masuk tipi. Oleh karena itulah sekarang aku ada di sini. Sebuah stasiun televisi nasional yang namanya bukan lagi cuma besar, tapi B-E-S-A-R. Aku duduk di ruang tunggu berpendingin udara, ada pakaian-pakaian bagus di sini, ada kotak makanan dari tempat makan besar. Ada artis, ada perempuan cantik yang sesekali menengok ke ponsel berlogo apel yang dipegangnya, aku tahu itu ponsel mahal. Ada juga kru yang sedari tadi berbicara di depan kami, aku tahu dia kru televisi dari pakaian yang dia pakai. Ada logo stasiun tivi di lengan kanan dan dada kirinya. Sepertinya acara akan dimulai, aku sudah diminta memakai sebuah mikrofon kecil. “Nanti waktu nama Mas dipanggil...

"Gala Bunga Matahari" adalah Campur Tangan Tuhan

Saya tidak mengada-ada, tetapi memang agak hiperbola. Sebab, bagaimana sebuah lagu dengan lirik semacam ini bisa tercipta dari tangan seorang manusia, kalau tidak ada campur tangan Tuhan di dalamnya? Bagaimana agar lebih meresapi tulisan ini, kita sembari mendengarkan lagunya? Tidak ada karya yang lebih menarik dibanding sebuah karya yang mengadu sabda Tuhan dan pemikiran si empunya karya. Mengadu dalam maksud menyetujui, mempertanyakan, atau bahkan menentang. Sebagaimana orang-orang barat membuat film tentang Nabi Nuh dan kapalnya, Ahmad Dhani dengan Virus Cinta-nya, Leonardo da Vinci pada Perjamuan Terakhir, lalu kali ini Sal Priadi bersama "Gala Bunga Matahari". Kerinduan terhadap seseorang yang sudah tiada. Sal mempresentasikan kerinduannya ke dalam sesuatu yang realistis; tahu bahwa seseorang yang telah tiada akan tetap tiada. Tidak ada lagi wujudnya kembali ke dunia. "Mungkingkah, mungkinkah, mungkinkah, kau mampir hari ini? Bila tidak mirip kau, jadilah bunga mat...

Masih Pantaskah Si Tua Bangka Ini Membicarakan Cinta?

Gambar
Tak seperti pohon jagung, umurmu lebih panjang. Namun, seperti pohon jagung, buahmu tak akan berguna kalau sendirian. Kau butuh jagung lain.  Tak seperti laron, kau tak hidup sebentar. Namun, seperti laron, kau akan mati malam itu juga kalau tak menemukan pasangan.  Jadi, masih pantaskah si tua bangka ini membicarakan tentang cinta?  Bukan, bukan tentang pencarian lawan jenis untuk dijadikan pacar. Namun, iya, iya, seperti itu juga.  Namun, bukan hanya sekadar rekanan untuk diajak jalan, nonton, dan makan. Iya, iya, yang seperti itu juga.  Tetapi, yang bisa diajak bicara dari malam ke malam lain. Sampai si tua bangka ini melunak, membangkai.  Namun, bukan hanya itu. Bagaimana cara si tua bangka ini mengajaknya?  Bagaimana membangun resepsi-resepsi sesuai selera masyarakat itu?  Bagaimana mencipta bahagia berumah berdua?  Bagaimana menentang uang bukan segalanya? Sebab, si tua bangka ini tahu seberapa segalanya uang untuk hidup nan...

Belajar Take and Give dari JKT 48

Gambar
JKT 48 adalah sebuah grup idola yang memiliki konsep berbeda dari girlsband  kebanyakan. JKT 48 tidak memiliki anggota tetap. Anggota mereka terdiri dari generasi-generasi yang saat ini sudah generasi kesebelas. Pada generasi pertama mungkin kita mengenal Melodi, Nabila, dan Haruka. Tiap anggota dapat saja keluar dari JKT 48 atau yang disebut dengan graduation.  Lalu, apa yang dapat dipelajari dari situ?  Konsep yang diusung JKT 48 belum pernah ada di Indonesia, walau di negara sumbernya, AKB 48, Jepang, konsep ini lumrah. Terdapat beberapa aturan dasar untuk kita sebagai penggemar. Kita tidak bisa tiba-tiba minta foto ketika bertemu member JKT, sekadar bersalaman pun tidak boleh. JKT 48 memiliki event tersendiri untuk dapat berfoto, yang disebut 2shot, bersalaman atau handshake, dan berbincang atau meet and great. Setiap acara tersebut tentunya tidak gratis, ada kocek yang perlu dikeluarkan. Kenapa, ya, ada orang yang mau mengeluarkan uang untuk hal-hal semac...

Dilarang Merokok di Ruang Kelas

Gambar
 Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Salo Saddang edisi V, 2020. Semua siswa dari kelas X sampai XII berbondong-bondong mendatangi kelas XII IPS 5, mereka semua penasaran dengan plakat yang baru saja dipasang di kelas tersebut. Kelas XII IPS 5 menjadi ramai di setiap jam istirahat dan pulang. Terkadang ada yang mencuri-curi mengintip saat jam pelajaran, tetapi langsung disuruh kembali oleh guru yang melihat.      Orang yang memasang plakat tersebut adalah wali kelas XII IPS 5 sendiri, Pak Yusril. Plakat itu berisi pemberitahuan bahwa siapa pun yang masuk ke dalam kelas dilarang untuk merokok. Tidak lupa juga diberitahukan bahaya-bahaya merokok di dalam plakat tersebut . Merokok menyebabkan kanker, penyakit paru kronik, jantung, stroke, hipertensi, diabetes, gangguan kehamilan dan janin, sampai ke yang paling berbahaya menyebabkan kulit keriput. Siapa juga yang ingin kulitnya keriput sebelum tua? Itu adalah dampak paling mengerikan dari merokok.    ...