Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Pertama yang Ke Sekian Kali

Ada rindu yang masih sama walau tahun sudah baru Ada beda yang tercipta padahal tetap pada si dia Tak berubah Tak memecah Tak lagi malam menemani Padahal new year new me Tak pernah ada bosan Padahal tatapan ke kembang api cuma sendirian Selalu Tak mau berlalu Resolusi cuma omong kosong Karena sepimu tak bisa tertolong Sepimu makin menyengat Sebab dia pergi, tak lagi penyemangat Kau hidup di luar Setengahmu mati tak berkabar Biasanya kau senyum sebelum tidur, senyum setelah bangun Kini kau mencoba kabur dari sapaan dingin sang embun Kau memilih bangun siang Sebab bangun pagi pun dia tak mengabari Mau lari, tapi kau tahu napasmu berhenti sangat dini Tahun baru, dia bahagia Kau setia, kehilangan setengah nyawa Kau tolak semua tawa Karena dia awal semua canda Berhentilah, usap semua peluh, dia sudah pergi jauh Buat ranjangmu rapi Biasakanlah terlelap dalam sepi. Dalam senja pertama 2018.

Tragedi Cerpen Plagiat

Berhentilah mengikutiku. Cerita pendekmu itu menghalangi kemenanganku. Latarnya hutan, kisahnya cinta, akhirnya bahagia. Kau cuma bedakan tokoh di dalamnya. Aku Zainab dan Ginting, Kau Zubaidah dan Subi. Aku tak suka orang yang mengganggu. Berhentilah terbelenggu dalam harapmu yang nyatanya semu. Asu! Cerpenmu itu, harusnya aku yang menang! Bukan kau yang menulisnya dengan tenang, aku di sini terkekang. Jauh-jauh pergilah. Kau cuma pengganggu. Persetan apa isi hadiahmu. Tak usah sok lugu. Pertemanan kita jelas cuma palsu. Kau mengincar ideku. Menyogokku dengan kado hasil tabunganmu. Aku tak butuh. Cerpenku jelas harus menang! Lalu dapat hadiah jutaan. Berhentilah jadi peniru. Aku sudah merasa terganggu. Kau cuma waktu sengganggku. Namun, kini aku sedang sibuk. Ceritamu, harusnya berakhir seperti yang sudah-sudah. Tak pernah ada rasa bahagia. Disalip. Ditinggalkan tanpa tahu apa alasan. Berakhir dengan sebelah tangan. Cukup seperti itu! Tak usah sok bikin ...

N*

Tersedak Malam ini dia meneleponmu lagi Bercerita sesuatu tadi pagi Dan kau mendapati dirimu jatuh hati Tak bisa mundur kembali Setiap senyumnya buat rasamu bertambah Tapi satu hal yang buat kau begah Dia tak mungkin kau pamerkan dengan gagah Dan kau terlanjur tak bisa untuk pindah Kau bukanlah yang dia pamerkan dalam nyaman Kau bukanlah yang dia kabar setiap siang Kau bukanlah yang dia genggam dia setiap jalan Kau hanya telinga yang mendengar setiap ceritanya Kau hanyalah bibir yang menanggapi keluhannya Kau hanyalah mata yang melihat kebahagiaan dia dan kekasihnya Kau bukanlah apa yang dia harapkan Dia hanya tak ingin kesepian Maka berhentilah jatuh lebih dalam Kalau tak mau rasamu berakhir kelam Dia adalah segala yang kau butuhkan Lebih dari yang dia rasakan Berhentilah berkhayal terlalu liar kawan Dia cuma tak suka kesepian Dan kau berharap berlebihan Maka pikirkanlah untuk berhenti Sebelum tak bisa kau bedakan jatuh cinta dan sakit hati *N= Nitrogen

Labrinth

Aku cemburu pada hujan, Dia menyentuh kulitmu lebih dekat dari yang pernah tanganku lakukan Tapi, itu cuma salin tempel Aku lebih cemburu dari itu Aku cemburu pada suasana hatimu Yang tiba-tiba berubah saat kita sedang satu Aku cemburu pada ponsel Yang dengannya rasa rindumu kau sampaikan Bukan padaku Yang pasti bukan padaku Aku cemburu pada suasana hatimu yang berubah Lalu dengan ponsel kau sampaikan lewat siaran di sosial media Aku cemburu pada lelapnya tidur Yang berakhir dan harapanku gugur Aku cemburu pada rasa cinta Yang akhirnya muncul di tempat dan suasana tak tepat Kau kembali pada suasana hatimu yang baik Setelah rasa rindu kau sampaikan pada dia yang dapatkan kau dengan berbagai teknik Jadi, aku cemburu Di sela ambil kesempatan, 24 November 2017 Terserah, aku tak pernah menyesal mencintaimu.

Nostalgia Masa Depan

Fotomu muncul dalam beranda Facebookku. Entah kenapa ada keinginan untuk membuka kembali sosial media yang mulai berjamur itu. Tanpa terkomando aku mencari namamu di kolom pencarian Melihat apa yang kau pernah lakukan Dan apa yang kita lakukan Sebuah ucapan selamat ulang tahun bahkan semenjak kita belum saling kenal Sampai kita dua tahun dalam satu kelas Dari saat kita tertawa bersama Sampai kau tidak keberatan kalau kita jadian Semua berakhir dan kita hanya senyum di setiap papas tak sengaja Aku tak tahu berapa kali cemburu Dan berapa kali sulit untuk menahan rindu Yang aku tahu kau mau menerimaku Cukup Ucapan selamat ulang tahun terakhir padamu tahun lalu Cuma kau jawab sedikit diikuti emoji senyum Padahal sebelumnya kita saling melempar jawab dalam komentar dan aku tak berharap cepat kelar Ucapan selamat ulang tahun yang mungkin tidak akan keluar lagi dalam tulis dan ucapku. Pada foto kronologi itu, aku ingat kita tak banyak berfoto Kita sungkan dan kamera ponsel k...

Semerbak Semalam

Malam telah larut Dan kau masih terpaut Pada sebuah wajah dan raut Yang menurutmu dia masih patut Kau masih tak mau pindah Padahal nyata sudah buat kau begah Kau berkelit dan bilang, "Ah aku masih betah." Aku hanya menatap purnama Yang mirip wajahmu semakin lama Mana mungkin aku bisa lelap Kalau dalam sehari aku tak tahu kabarmu dalam gelap Semua rasa ingin itu mulai menyetubuhiku Memasuki tubuhku sampai ke setiap lekukku Aku ingin dia juga setubuhimu Agar kau akhirnya tahu Agar kau dipaksa menikmati Dan kita bisa saling mengerti. Dalam balutan sulit tidur , 7 November 2017

Berswacintalah dengan Bahagia

Cinta itu maya Kalau kau tidak memiliki Cinta itu nyata Kalau kau dia miliki Lalu, maya dan nyata apalah bedanya Ya bedalah. Memang otakmu selutut? Apa cinta memang patut menurunkan keningmu ke lutut? Berusaha penuh agar dia manggut-manggut? Apa bedanya nyata dan maya Kalau akhirnya kau berharap cinta dan berkode di sosial media? Unggah-hapus-unggah-hapus Unggah lagi, dia melihat lalu hapus Sampai kapan? Sampai dia tergugah dan mencintaimu setengah mampus? Selamat! Kau mendapatkan dia Setelah beberapa kali kasih hadiah Lalu apa? Berjalan, telepon sampai larut malam, bikin catatan harian lalu unggah di instagram. Kau dan dia masuk dunia penuh suka dan kabung Setelah beberapa kali putus dan nyambung Kini kau dan dia sudah berasa nyaman Dan rasa percaya sudah tak perlu dipertanyakan Selamat! Akhirnya kalian menikah Punya anak dan berbahagia Kalian namai dia Fenita atau Laksmi Atau mungkin Afranto. Lalu, bagaimana jika dia sudah tolak kau dari awal? Maka, selamat...

Pada Sebuah

Pada sebuah ingin aku selipkan angan Pada sebuah kata aku titipi jangan bicara kasar Karena tangan tak tahu kapan jadi tangan panjang Dan mulut tak tahu kapan jadi mulut ember Pada sebuah rindu aku pesan ingin bertemu Pada sebuah tanggungan aku ingin bukan sekadar jawaban Karena cinta tak tahu kapan jadi rasa duka Dan hati tak tahu kapan jadi murah hati Sebab seribu murung aku sembunyikan dalam semringah Agar kau tak tahu aku mengingikanmu pada sebuah….

Aku Ingin Mencintaimu dengan Sangat Sederhana

Aku ingin mencintaimu dengan sangat sederhana. Cukup aku mencintaimu dan kamu mencintaiku. Tak perlu bawa-bawa kayu, api, dan abu. Tak perlu repot cari tahu isyarat kayu pada hujan. Cukup aku ingin kamu di sampingku dan kamu tidak keberatan dengan itu. Tak perlu bawa-bawa personifikasi, Atau kata-kata yang sulit dipahami. Aku ingin mencintaimu dengan sangat sederhana. Cukup aku tahu kalau kamu benar-benar mau aku. Tak perlu bawa-bawa buku Hujan Bulan Juni. Atau kalau tidak bisa, Aku ingin mencintaimu dengan sedikit lebih sederhana, Cukup kamu tidak berikan harapan yang berlebihan.

Kacamata, Daun Telinga, dan Batang Hidung

Di sebuah rumah tinggalah setetes kacamata Dia sendiri Kadang bertiga Dengan daun telinga dan batang hidung Aku dengar cerita darinya Keluar dari lensa kacamata yang kiri Dia berharap pada daun telinga kanan Dia selalu ingin pergi ke sana Aku juga dengar cerita dari lensa kacamata kanan Dia mencintai daun telinga kanan Dia tidak mau berpisah dari daun telinga kanan Aku dengar cerita dari daun telinga kanan Dia juga mencintai lensa kacamata kanan Dia tidak ingin berpisah Sejenak berpisah lalu bertemu lagi Aku dengar cerita dari batang hidung Dia bilang kalau daun telinga kiri menyukai lensa kacamata kiri Tapi, itu dulu Sekarang aku tak tahu Aku datang mengambil setetes kacamata itu Menjatuhkannya dengan lembut Menginjaknya keras dengan pantofelku Supaya mereka mati dan berhenti bercerita tentang cinta lagi

Aku Mau

Aku mau buat puisi Tapi bingung tentang apa Tentang cinta Atau menentang pemerintah Aku mau jatuh cinta Tapi bingung pada siapa Pada dia yang cinta temannya Atau padahal percuma saja jatuh cinta Aku mau jadi penulis Tapi bingung mau menulis apa Menulis kisah nyata Atau menu list dalam restoran yang kau suka Aku mau jadi kaya Tapi bingung mau kerja apa Kerja di depan komputer Atau meng- kerja-kerja kau sampai dapat Aku mau ini Itu juga mau Tapi bingung apa maumu Apa aku egois?

Jadi, Kapan?

Aku pernah mendengar pertanyaan darinya. Tentang bagaimana jika. Pertanyaan yang aku jawab dengan mana mungkin ada. Aku terlalu lama bergelut dalam cerita panjang dengan tokoh berkarakter dia. Sehingga lupa dunia nyata, lupa kalau aksara belum pernah jadi nyata. Dia juga tidak menjelaskan tentang bagaimana jika itu, aku tidak tahu maksudnya. Aku yakin tak ada makna dalam, cuma obrolan pengusir keheningan. Jika memang ada, aku ingin dia. Jika bukan, sudahlah, aku malas berjuang. Hampir tiap malam, tapi tetap tak ada perasaan. Sebegitu kuat dia melapisi hatimu. Berkali-kali aku bilang, tapi kau cuma terseyum marah dan menghilang. Aku jujur, kau biarkan aku tercebur. Jadi tentang pertanyaanmu, bagaimana jika, aku ingin menjawab bagaimana kalau? Tapi kapan jadi kenyataan? Aku cuma berselimut dalam harapan. Harapan yang muncul dalam pikiran dan kenyataan. Bagaimana jikamu, mungkin akan jadi bagaimana kalauku. Lalu, dengan penuh harap di mataku, aku bertanya, "Jadi, kapan?...

Bukan Apa-Apa Bukan untuk Siapa-Siapa

Kau berhasil dapat hatinya Aku berhasil dapat senyumnya Kau berhasil dapat perhatiannya Aku berhasil mengalihkan pikirannya Kau berhasil menggenggam tangannya Aku berhasil menatapnya Kau berhasil memilikinya Aku berhasil mengharapkannya Kau belum berhasil Aku belum gagal Kau tarik semua miliknya Aku tarik semua perasaannya Kau bisa Aku kalau bisa Kau puas mendengar suaranya Aku puas menemani menjelang tidurnya Kau adalah impiannya Aku selalu memimpikannya Dalam bait yang kapan jelas dan singkat Dalam kedip yang buat senyumnya dalam kepala melekat Aku bergumul dengan tiap bahasa dan keinginan bersamanya. Tidak seperti kau yang bergumul dengannya penuh canda tawa Siapa aku? Kau juga belum siapa-siapanya. Masuk dalam jurang yang tak bisa kita panjat. Sama, kita bisa panjat jurang itu. Kita sama-sama terlalu bahagia dalam jurang yang sama. Bedanya, masalah yang kita hadapi beda. Kau dan dia Aku kepadanya Patahkan senyumnya padamu Serahkan itu padaku Kalau bis...

Bukan Apa-Apa

Terkadang aku ingin menulis panjang Tapi, tidur lebih menyenangkan Siapa tahu aku bisa dalam maya bertemakan Denganmu lagi berdua bergandengan

Bukan Untuk Siapa-Siapa

Semua deret sapamu membuktikan Kalau aku muncul, kau sedang kesepian Aku terima itu, tentu tidak terima Sekarang aku coba jauhimu Agar saat kesepianmu, aku tak ada bagimu Tapi, sekarang aku yang sepi Sedang kau dengan dia tertawa haha hihi

Bila... Saja

Berhenti dulu membahas realita, mari sejenak kita berkhayal. Ini semua tentang... bila... saja. Menjadi penyuka tulisan dan menulis adalah hal paling menarik yang tidak menyenangkan. Banyak lembaran yang sudah harusnya kita tutup terpaksa kita buka lagi. Saat aku telah menulis hal tentang kita, kau malah telah menerbitkan buku tentang dia. Selalu saja ada waktu di mana aku selalu berucap... Bila... saja. Bila saja aku yang lebih dulu kau kenal dibanding dia, mungkin jalan cerita dan tokoh utama dalam bukumu itu akan berubah. Bila saja aku adalah dia dan biarkan dia merasakan apa itu aku. Andai... aku saat ini ada dalam posisinya, sedang kau cintai, sedang kau peluk erat di bilik khusus jauh di dalam dadamu, sedang kau pertahankan walau keadaan mungkin tidak memungkinkan. Bila... saja. Sudah aku bilang kan? Ini semua tentang bila dan jika. Realita menusuk membuatku sadar. Apa salahnya hidup dalam 'bila saja' ? Toh aku yang patah hati, bukan kamu atau dia. Biarkan saja ak...