Postingan

Jeda dan Pindah

Ada beberapa hal yang sepertinya sulit dilupakan. Hahaha, kalimat pertamanya saja sudah mengingatkanmu akan seseorang kan? Bagaimana jika aku menguatkannya lagi. Kapan terakhir bertemu? Kemarin? Minggu lalu? Bulan lalu? Atau sudahlah, biarkan dia berlalu? Ada apa dengan dia? Kenapa hanya dengan kata sulit dilupakan dia malah masuk dalam ingatan? Harapan yang kau tabur ternyata terhenti di tengah jalan, lalu entah kenapa taburan itu malah muncul jadi tanaman. Semakin besar, tinggi, namun sayang tak bisa kau rawat lagi. Tanpa sengaja kau lihat fotonya di lini masamu. Entah kenapa temanmu mengunggah foto yang ada dia dan kenangannya. Tiba-tiba kau masuk dalam pintu yang berisi ratusan pigura yang berisi gambar kau dan dia dahulu. Dengan judul di bawahnya, entah kata yang kalian ucapkan atau kata yang tertahan di antara ketidakberanian. Kau berusaha keluar dari ruang itu. Membuka satu per satu pintu yang nyatanya malah berisi jalur masuk kenangan yang lain. Penyesalan, kebahagiaan, pen...

Senja di Universitas Sriwijaya

Walau punya warna yang sama dengan UI, kami tentu tak seelegan mereka. Meski lebih luas dari UGM, kami tentu tak semenarik kota pelajar. Tapi, kami punya langkah yang yang sama semenjak A terpampang di lembar akreditasi kami. Persetan dengan itu, Unsri punya banyak hal lain yang patut dituliskan. Terluas di Asia Tenggara, terbesar di Sumatera Selatan. Kami punya cerita menarik di sore hari. Datang-datanglah ke Unsri sekitar jam setengah lima sore sampai menjelang maghrib. Di saat beberapa mahasiswa baru menyelesaikan kegiatan, di depan Auditorium dan Rektorat. Saat matahari sedang sendu-sendunya, saat orang-orang berlari ringan mengitari jalan, saat bola-bola futsal ditendang sampai penat. Di sanalah keteduhan mungkin terasakan. Dengan manisnya wanita-wanita berpipi chubby dan balutan kacamata, dengan teduhnya wanita-wanita berjilbab panjang, atau dengan perpaduan antara keduanya. Jangan berjalan sendiri, karena pada akhirnya kalian cuma bakal iri dengan mereka yang berlari sambi...

Soal Kamu, untuk Kesekian Kali.

Kerap ada luka yang tersenyum dipaksa lupa. Ada harap yang dikubur dalam sekali garap. Ada hujan yang dipaksa teduh oleh pujian. Terlalu tak adil, jika memaksa hadir. Terlalu rancu, jika terus dipacu. Terlalu jemawa ketika kita tertawa. Kamu adalah hujan yang datang bersama harap yang terkubur dalam luka yang dipaksa lupa. Kamu adalah ciptaan nyaris sempurna yang ketidakadilan Tuhan buat untuk membuat hati tertawa teriris luka. Kadang, kamu adalah pecut yang membuat nyaliku kecut. Kadang, kamu adalah lupa yang selalu aku bawa-bawa. Kadang, kamu adalah aku yang tak pernah bisa dalam hatimu membuat kandang. Terbawa emosi yang longsor bersama erosi dalam keinginan untuk bisa memiliki. Tidak mungkin. Mungkin... TIDAK! Tolong, buat hatiku tak lagi melolong.

Soal Senja yang, Sudah, Aku Bosan

Percayakah dirimu akan keindahan dari sebuah pelangi? Berharap di ujungnya ada harapan yang bisa kau andalkan? Padahal cuma tetes-tetes air, sisa-sisa hujan. Percayakah dirimu dengan warna-warni yang bisa menenangkan itu? Berharap kau bisa tidur santai didekapnya? Padalah cuma cahaya maya, yang kau dekati lalu menghilang. Percayakah dirimu ada ruang yang bakal indah di ujung perjuanganmu? Berharap hanya dengan setia kau akan bahagia? Padahal hanya raung-raung penderitaan yang terlalu tinggi bergantung di harapan. Percayakah keindahan senja itu menenangkan diri? Berharap ada yang baik datang setelah hari berganti. Padahal senja saja tak mampu menemani sampai lelapmu. Sebab sejatinya senja tak mampu menghapus air matamu, kau hanya membiarkannya mengalir sampai senja meninggalkanmu sendiri. Senja memberimu kehangatan hanya untuk membuatmu penuh harapan. Lalu dijatuhkan, saat dingin bersama gelap malam dia datangkan. Sebab sejatinya senja tak pernah mampu membuatmu bahagia, saat ...

Mengancurkan Indonesia itu Mudah

2016, menjadi tahun yang membuat SARA menjadi begitu terkenal. Dari sini kita bicara serius dulu, tetep santai, hindari panas. Seorang gubernur dilaporkan karena menistakan agama, hiasan Natal di sebuah hotel berlafadz Allah seolah diinjak-injak, boikot sana-sini, tokoh FPI dilaporkan karena dugaan penistaan agama, uang baru muncul, kenapa tokoh ini tidak berhijab? Kenapa kebanyakan tokoh di uang baru kebanyakan non-muslim? Setiap orang berhak menjadi presiden, bukan begitu? Lalu, coba kita ambil satu tokoh besar di Papua yang non-muslim untuk menjadi presiden, sebesar apa rasis yang bertebaran? Dulu WNI keturunan Tionghoa bahkan dibuli habis-habisan. Ernest Prakasa bahkan menikahi pribumi agar anaknya tidak bernasib seperti dia. Ini Indonesia? Seorang pengguna Twitter bercuit tentang pahlawan yang berada di pecahan Rupiah baru. Seorang pahlawan asal Tanah Mutiara Hitam. Berkomentar mengejek, kenapa harus dia? Siapa memangnya dia? Non-muslim banyak di pecahan rupiah baru? Konspir...

Cerpen: Stasiun Kereta dan Kita

Stasiun Kereta dan Kita 02 Oktober, aku menghabiskan waktku di stasiun kereta api Kertapati, Palembang. Seperti bisanya, aku duduk di deretan bangku memanjang yang memang disiapkan untuk para penumpang yang sedang menunggu jam keberangkatan kereta atau menunggu teman, keluarga, pasangan atau siapa pun turun dari kereta. Seperti aku yang saat ini sedang menunggumu. Stasiun kereta jadi semacam tempat berisi banyak kenangan bagiku, mungkin seperti bandara bagi orang-orang kota yang meninggalkan keluarganya. Banyak sekali kenangan, dan entah kenapa setiap kenangan yang menurutku menarik dari stasiun kereta ini selalu menyelipkan namamu di dalamnya. Seperti awal pertemuan kita, kau datang bersama sepupuku. Ya, kalian berdua adalah teman dekat. Kau dan sepupuku baru saja lulus SMA, dan kalian akan ikut daftar ulang di salah satu universitas negeri terbesar di Sumatera Selatan. Universitas tempatku berkuliah. Awalnya, aku hanya dimintai oleh tanteku, ibu dari sepupuku, untuk menema...

Imaji Pura-Pura

Kali ini hujan terasa turun dengan malu-malu. Seperti ingin jatuh, tapi berkata, "Tunggu dulu." Berbeda dengan malam yang datang dengan tiba-tiba. Berkata lantang, "Aku sudah saatnya." Seperti perpaduan antara keduanya, hujan menciptakan malam yang lebih dingin dari biasanya. Kalau saja kau tahu, aku ingin mencairkan dingin itu. Tapi, logo centang dan warna hijau itu menghalangi. Buatku terus berpikir untuk berpura-pura. Berpura-pura dengan kata yang berupa-rupa tak akan bisa membuatku lupa-lupa. Lupa-lupa akan perasaan yang meluap-luap bagai air hangat yang beruap-uap. Beruap-uap dalam harap-harap yang aku pegang erat-erat. Aku angkat bicara dalam kepura-puraanku agar aku ingat untuk lupa kalau aku berpura-pura. Karena perasaan hanya untuk satu hati, tak mungkin menjadikannya dua hati. Karena dua hati berarti hati-hati. Hati-hati untuk tetap melangkah tertatih-tatih. Tertatih-tatih dalam menjalani hari-hari penuh hati-hati. Untuk bisa lupa, aku pura-pura b...