Postingan

Sebuah Tatap dengan Si Kurus

Aku baru bilang dia kurus, padahal ternyata dia lebih berisi dari aku sendiri. Joko Pinurbo. Aku mengetahui namanya secara tidak sengaja. Saat aku mencari nama Sapardi Djoko Damono di Youtube. Ya...  memang siapa yang secara niat mencari nama Joko Pinurbo, padahal Sapardi lebih terkenal, atau Chairil Anwar sekalian. Pada salah satu video, aku melihat wawancara Sapardi dan seorang kurus, aku bilang kurus lagi karena aku belum melihatnya secara langsung saat itu, berbicara tentang puisi. Jokpin, nama yang tertulis di judulnya, membacakan sebuah puisi. Puisi dengan kata yang hanya dibolak-balik, diacak, disamarimakan. Puisi dengan judul Kamus Kecil . Puisi yang dalam video itu dikomentari oleh Sapardi Djoko Damono yang punya Hujan Di Bulan Juni. Dia bilang, kalau puisi adalah nyanyi. Puisi itu harus dinyanyikan. Sapardi tidak membahas makna, bahkan dia bilang tidak mementingkan makna dalam Kamus Kecil. Entah karena puisi itu lebih enak didengar rimanya atau memang Kamus Kecil tak...

Tips Jadi Mahasiswa Baru Jilid 2. Tips nomor 8 ternyata bikin senior....

Saya baru akan masuk semester lima. Gak penting, cuma jadi penunjuk kalau saya sudah menuju tua. Tips jadi mahasiswa baru ini adalah jilid kedua, jilid pertama yang sudah dibaca sebanyak 200  kali oleh saya sendiri bisa dilihat di sini atau yang ini. Terserah mau klik yang mana karena, toh , pranulanya sama aja itu. Saya sengaja bikin click bait alias pancingan biar diklik. Paling tidak ikut-ikutan kekinian. Oke, langsung menuju tips yang pertama. 1. Yakinkan diri kalau anda sudah berada di fakultas yang tepat. Maksudnya, jika kalian anak pertanian jangan masuk ke fakultas kedokteran. Nanti kalian salah belajar. Walau kalian pengin masuk kedokteran, tapi jangan terlalu maksa. Masuk ke fakultas kedokteran bukan berarti kalian jadi mahasiswa kedokteran. 2. Jangan pernah ngomongin senior di belakang . Pernah denger kalau senior adalah dewa? Kalau belum pernah sini kasih nomor telepon kalian, nanti saya telepon dan bicara dengan lembut, "Senior adalah dewa, senior adalah dewa....

Padahal Aku Mau Berhenti

Kamu tahu yang kau cintai tak cintai kau Kamu tahu yang kau anggap peduli peduli ke semuanya. Menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis. Tanpa ada kata sudah. Padahal kau bilang dalam dirimu mau berhenti. Munafik! Apa lagi yang kau mau? Kau tunggu apa lagi? Dia begitu ke semuanya Dan ke semuanya dia tidak punya rasa Jadi, ke mana kau mau pergi? Tali yang menjerat leher, racun tikus, atau gedung tinggi? Menulis adalah proses belajar. Belajar bukan mengulang kebodohan. Apa guna kau menulis sekarang? Jadi, mau ke mana kau mati? Sakit hati atau pindah ke lain hati? HAHAHAHAHAHAHA mana mungkin kau bisa. Kamu hidup abadi selamanya dalam tulisanku sampai nanti ada yang membaca dan merasa buat apa dia abadi, buat apa kau menulis.

Tentang Hujan yang Tak Lagi Spesial

Bisakah aku menulis lagi sekarang? Tepatkah waktunya? Tentang sebuah hujan yang terlalu sering turun membasahi setiap jengkal tanah kering yang menjadikannya basah, tentang hujan yang dipandangi untuk mengusir kesepian, tentang rasa yang entah apa lagi deskripsinya. Entah telah berapa lama hujan datang tanpa aku suruh. Entah sudah seberapa basah aku di tengah rintik yang mengguyur. Entah seberapa betah kau berteduh di bawah hangatnya si payung ungu. Aku terus saja berdiri, membiarkan rintik demi rintik jatuh membasahi. Aku bahkan lupa bagaimana rasanya kering. Aku tak tahu lagi aku sudah basah atau mulai kering. Persetan dengan aku, kau pandangi hujan tanpa tahu benarkah hujan sedang turun. Persetan dengan waktu, kau masih berteduh di bawah payung ungu bersenyum lucu itu. Tidak lucu! Cuma kau yang bilang itu lucu. Basah kuyup tidak pernah lucu. Memangnya dengan hujan ini kau pernah sekali saja acuh? Aku melihat tanganmu mengulur menadah hujan. Kau lihat bibirku tersenyum? Aku lihat...

Sefiksi Sudut Malam

Ramai, hilir-mudik berlalu begitu saja. Tanpa bintang, hanya asap dari kendaraan. Kamu bilang di sini ramai, Aku mati ditelan kesepian. Terbeban oleh khayalan, Berpelampung pada kenyataan. Tetap tenggelam. Kau mau aku ceritakan bagaimana aku? Aku yang selalu pantas untuk dirimu. Namun, kata tidak selalu sesudah selalu. Aku yang terlalu bocah. Jatuh menangis. Teriris menangis. Bahagia membual. Bibirku yang terlalu kotor untuk mengecup bibirmu yang rasa stroberi itu. Tanganku yang terlalu hina untuk menyentuh tangan cantikmu itu. Langkahku yang sempoyongan untuk berjalan denganmu. Tawamu yang terlalu palsu pada setiap hiburku. Ajakku yang kau iyakan dengan tolakan, dudukku yang sembarangan, mataku yang jelalatan. Pada sebuah sudut malam yang ada di negeri dongeng, Aku memelukku. Pada sebuah sudut malam yang ada di pelupuk senja yang mati, Kamu menekukku. Tertekuk pada kata "ayo" Yang kau jawab, "Tidak harus sekarang, kan?" Padahal aku tahu mak...

Rasamu Fatal

Dimuat dalam buku "Nyala Puisi Jilid I". Kamu berharap bisa bilang kerap, garap, gelap, dalam satu tarikan nafas kamu hisap? Kamu malah membuatku makin berpikir ada yang salah. Bagaimana kamu bisa berubah kalau mengubah masih kau tulis merubah. Bagaimana kamu bisa dianggap kalau di mana masih kau tulis dimana. Bagaimana bisa kamu pindah, kalau naik bus saja masih kau bilang naik bis. Bagaimana kamu mengerti kalau tahu saja masih tau. Bagaimana kau bisa peduli, kalau acuh saja katamu tak peduli. Kau bilang kau lebih dari sekedar mencintainya, Padahal sekadar pun kau anggap sekedar. Bagaimana bisa kau memulai, kalau dan saja kau tulis di awal kalimat. Mungkin kau akan bilang, "Jika aku jadi kamu, maka aku tidak akan lakukan itu." Padahal sejatinya jika tidak akan bertemu dengan maka. Kau bilang kau tahu salahmu, padahal kau pun kau bilang kaupun. Kau bilang kau selalu memeluknya sejak kecil, tapi dipeluknya saja kau di peluknya. Tapi, berkat kamu aku tah...

Fiksi Mini : Dering

Dering panggilan darinya benar-benar mengganggu. Aku tidak tahan lagi mendengarnya. Akh ... harusnya aku tidak mengubur ponsel itu bersama jasadnya.