Ternyata, Semakin Realistis Karya Fiksi akan Semakin Menyakitkan; 5 cm Per Second

Kalau menurut Aristoteles, karya sastra adalah sebuah katarsis; sebuah sarana pelepasan emosi yang intens. Namun, agaknya Makoto Shinkai terlalu berlebihan menanggapinya. Dia benar-benar meluapkan emosinya ke dalam karya yang ia buat. Sampai-sampai ia lupa yang ia buat adalah sebuah karya fiksi. Rasanya terlalu benar-benar terjadi, rasanya terlalu ceplas-ceplos, rasanya terlalu menusuk menembus layar. Saya perkenalkan karya kurang ajar itu, "5 cm Per Second".


"5 cm Per Second" adalah sebuah film animasi buatan Makoto Shinkai, yang juga membuat Kimi No Nawa", berdurasi sekitar satu jam yang tidak banyak memakai dialog di dalamnya. Kekuatan cerita dalam film ini adalah dari monolog tokoh di dalamnya. Selain monolog yang membuat kita seperti mendengar cerita hangat nan menusuk, pergerakan dan perkembangan tokohnya pun membuat kita mengerti apa yang mereka alami tanpa banyak berbicara.

Mengisahkan tentang Takaki dan Akari, sepasang kekasih yang harus menjalani kisah cinta jarak jauh alias ldr. Terpisahkan oleh jarak yang keduanya hanya bisa berkomunikasi melalui surat, yang tentunya tidak akan pernah menyenangkan. Walau ada satu kesempatan akhirnya mereka bertemu karena usaha Takaki untuk mendatangi kota tempat Akari berada, mereka bertemu, memecahkan celengan rindu yang sudah penuh, tetapi ternyata itu malah jadi awal cobaan dari hubungan keduanya.

Jarak antarkeduanya semakin menjauh, Takaki harus pindah ke kota yang lebih jauh lagi. Pertemuan seperti sebelumnya seperti mustahil untuk terjadi. Ternyata bukan hanya jarak, waktu pun menjadi antagonis dalam cerita mereka. Seiring berjalannya waktu, surat dari mereka berdua semakin jarang terkirim. Keduanya saling menunggu dan berpikir, apakah berkirim surat akan meringankan hubungan mereka atau malah justru membuat jenuh kerinduan keduanya.

Waktu membuat mereka menjadi dua orang yang berbeda, keduanya tumbuh, keduanya seolah saling lupa hubungan yang mereka jalani selama ini. Kotak surat tak pernah lagi berisi surat, kesibukan menumbuhkan mereka menjadi manusia dewasa dengan kesibukannya. Keduanya tak lagi saling menghubungi, benar-benar telah menjadi asing. Hingga akhirnya Akari menikah dengan pria lain dan Takaki menjalani kehidupan sembari mencari sesuatu yang dia tak tahu apa itu, tetapi terasa telah hilang dari dirinya.

Kisahnya sederhana, sepasang kekasih yang LDR, karena jarak dan waktu mereka akhirnya berpisah. Tidak ada manis di bibir, Makoto Shinkai membuat hubungan keduanya lugas dan jelas. Bagaimana cara memperjuangkan sesuatu yang telah hilang? Surat-surat kerinduan mereka telah hilang, pun begitu pertemuannya. 

Ceritanya rumit, bukan tentang Takaki yang tidak sememperjuangkan Akari sedemikian rupa, bukan Akari yang tidak mau menunggu, bukan pula jarak yang dengan sengaja semakin jauh, melainkan waktu. Waktu membuat Takaki tumbuh, waktu membuat Akari menemukan yang lain, waktu membuat jarak semakin sulit ditempuh.

Bukankah memperlayak hidupmu adalah sebuah kewajiban dan bukankah kepastian adalah yang kau mau? Realistis kan? Namun, kenapa sebegitu menyakitkan sebuah kenyataan seperti itu jika harus dijadikan sebuah karya fiksi? Kenapa kalau sudah fiksi tidak sekalian saja berbahagia? Kenapa tidak dibuat berakhir menyenangkan saja? Kenapa rasanya lebih menyakitkan?

Seperti judulnya, 5 cm Per Second, cerita mereka bukan perkara jarak, tetapi waktu. Sakura yang gugur melaju dengan kecepatan lima sentimeter per detik. Lima sentimeter per detik yang dapat mengubah musim semi menuju musim dingin. Lima sentimeter per detik yang dapat mengubah minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun, tahun menjadi asing.

Namun, seperti kata Bernadya, sialnya hidup harus tetap berjalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Mau

Tahun Baru? What The Poop Is That?

Berswacintalah dengan Bahagia